BAGYNEWS.COM - Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Kota Dumai (GEMPA) menggelar aksi unjuk rasa berskala besar di halaman Mapolda Riau, Jumat 22 Mei 2026 siang.
Menggunakan bus dan kendaraan roda dua, massa tiba di gerbang pintu samping Mapolda Riau sekitar pukul 13.31 WIB di bawah pengawalan ketat aparat kepolisian.
Kedatangan aliansi ini didasari oleh keresahan mendalam terkait menjamurnya aktivitas ilegal yang diduga kuat dikoordinir oleh sindikat mafia minyak di Kota Dumai, mulai dari praktik penimbunan hingga distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) ilegal.
Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi, Satria Ramadhan, dalam orasinya menegaskan bahwa keputusan menggeser titik demonstrasi ke ibu kota provinsi diambil lantaran suara dan laporan mereka di tingkat lokal sama sekali tidak mendapat respons konkret dari aparat penegak hukum setempat.
"Kenapa kami jauh-jauh bergerak dari Dumai ke Pekanbaru? Karena aspirasi dan laporan kami di Dumai sana tidak pernah digubris dan terkesan ditutup-tutupi," teriak Satria dari atas mobil komando.
Massa aksi menilai kondisi sosial di Kota Dumai saat ini sangat ironis dan menyakiti hati rakyat. Sebagai salah satu kota industri pengolahan dan pusat distribusi minyak terbesar di sumatra, masyarakatnya justru kesulitan mendapatkan hak energi dasar.
Aliansi GEMPA membeberkan sejumlah anomali di lapangan. Soal
kelangkaan BBM, antrean kendaraan roda dua dan truk logistik masih mengular panjang di berbagai SPBU Dumai hanya untuk mendapatkan Pertalite dan Solar bersubsidi.
Di tengah kelangkaan tersebut, mahasiswa mengklaim telah mengantongi bukti-bukti valid berupa titik koordinat dan dokumentasi visual keberadaan gudang-gudang penimbunan solar ilegal skala besar.
"Ini keresahan nyata masyarakat Dumai. Kota kita adalah tempat distribusi minyak, tapi warganya susah setengah mati hanya untuk mengantre pertalite dan solar. Sementara di sudut-sudut kota, gudang kencingan solar ilegal bebas beroperasi," cecar Satria.
Dalam lembar pernyataan sikap yang diserahkan ke pihak kepolisian, massa membawa lima poin tuntutan krusial, yaitu:
Mengusut tuntas dan menggulung seluruh aktivitas gudang BBM dan Crude Palm Oil (CPO) ilegal di Dumai.
Menindak tegas kapal Self Propelled Oil Barge (SPOB) ilegal yang bermain di perairan Dumai.
Melakukan audit investigatif terhadap SPBU nakal yang ikut bermain mata dengan para pelansir.
Mendorong transparansi penegakan hukum dalam kasus kejahatan migas.
Memperketat pengawasan jalur distribusi BBM subsidi agar tepat sasaran.
Massa juga mengeluarkan ultimatum keras akan kembali mengepung Mapolda Riau dengan gelombang massa yang jauh lebih besar jika lima tuntutan ini diabaikan dalam waktu dekat.
Menanggapi gelombang protes mahasiswa, Kasubdit I Ditreskrimsus Polda Riau, AKBP Agus, langsung menemui massa di depan gerbang. Ia mengapresiasi jalannya aksi yang tertib dan berjanji akan segera meneruskan berkas tuntutan tersebut ke meja Kapolda Riau.
"Seluruh aspirasi dan poin tuntutan kawan-kawan semua sudah kami terima dengan baik. Saya akan segera membuat laporan resmi hari ini juga untuk diteruskan langsung kepada pimpinan di Polda Riau agar bisa diambil langkah penindakan secepatnya," tegas AKBP Agus di hadapan massa.
Setelah mendengar jaminan tertulis dari pihak kepolisian, ratusan massa aksi akhirnya membubarkan diri dengan tertib dan damai pada sore hari.***
| Penulis | : |
| Editor | : bastian |
| Kategori | : Peristiwa |
© Bagynews.com. All Rights Reserved. Designed by HTML Codex

