Kasus Keracunan MBG Palembang Terungkap, Roti Kedaluwarsa Diduga Dilabel Ulang
BAGYNEWS.COM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan untuk mendukung kesehatan dan tumbuh kembang siswa justru memicu insiden serius di Palembang, Sumatera Selatan.
Sejumlah siswa SMP Negeri 31 Palembang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi paket makanan berupa roti dan susu yang dibagikan di sekolah.
Insiden tersebut terjadi pada lingkungan sekolah yang berlokasi di Jalan Pajajaran, Kelurahan Tuan Kentang.
Paket makanan MBG itu diketahui berasal dari Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Jakabaring dan dibagikan kepada para siswa tanpa kecurigaan apa pun.
Tak lama setelah makanan dikonsumsi, suasana sekolah berubah panik.
Sekitar 15 menit kemudian, beberapa siswa mulai mengeluhkan sakit perut, mual, pusing, hingga rasa tidak nyaman pada tubuh.
Salah satu siswa, Yoga Pratama, mengaku merasakan kejanggalan sejak gigitan kedua roti yang ia konsumsi.
“Namun sekitar 15 menit kemudian, suasana sekolah berubah panik setelah beberapa siswa mengalami keluhan, termasuk Yoga Pratama yang merasakan kejanggalan sejak gigitan kedua," dikutip dari instagram @pojoksatu.id.
Keluhan serupa juga dialami sejumlah siswa lain yang kemudian langsung mendapatkan penanganan dari pihak sekolah.
Guru dan petugas sekolah segera melakukan pemeriksaan terhadap sisa paket makanan yang belum dikonsumsi.
Dari hasil pengecekan awal, ditemukan sejumlah roti dalam kondisi kedaluwarsa.
Dugaan semakin menguat setelah ditemukan indikasi adanya label tanggal yang tidak sesuai dengan masa edar produk.
Temuan tersebut langsung dilaporkan kepada pihak berwenang.
Aparat dari Polsek Seberang Ulu I bersama Polrestabes Palembang turun ke lokasi untuk melakukan penyelidikan.
Polisi mengamankan sejumlah sampel roti dan susu sebagai barang bukti guna keperluan uji laboratorium dan pendalaman lebih lanjut.
Kasus ini langsung memantik reaksi keras dari DPRD Kota Palembang.
Sejumlah anggota dewan menyatakan keprihatinan sekaligus kemarahan atas insiden yang menimpa siswa.
DPRD menilai program yang seharusnya menyehatkan justru berubah menjadi ancaman bagi keselamatan anak-anak.
DPRD juga mendesak agar pihak-pihak terkait, termasuk penyedia dan penyalur makanan MBG, bertanggung jawab penuh atas kejadian tersebut.
Evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pengadaan, distribusi, hingga pengawasan program MBG dinilai mendesak untuk dilakukan.
Sementara itu, pihak sekolah menyatakan akan meningkatkan pengawasan terhadap makanan yang masuk ke lingkungan sekolah.
Orang tua siswa pun berharap kejadian serupa tidak terulang dan meminta jaminan keamanan pangan bagi anak-anak mereka.
Kasus dugaan keracunan massal ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat dalam pelaksanaan program bantuan pangan.
Aparat kepolisian memastikan proses penyelidikan akan dilakukan secara transparan untuk mengungkap ada tidaknya unsur kelalaian atau pelanggaran hukum dalam distribusi MBG di Palembang. ()
Sumber: pojok1