Inilah Daftar 10 Mata Uang Terlemah Dunia 2026: Ada Rial Rupiah
BAGYNEWS.COM - Forbes merilis daftar 10 mata uang terlemah di dunia pada 2026 berdasarkan nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Peringkat ini disusun dengan mengukur berapa banyak unit mata uang yang dibutuhkan untuk memperoleh 1 dolar AS, menggunakan data kurs per Jumat 9 Desember 2025
Pada laporan tersebut, pound Lebanon menempati posisi teratas sebagai mata uang terlemah di dunia. Nilainya tercatat sekitar US$ 0,000011, yang berarti dibutuhkan hampir 90.000 pound Lebanon untuk menyamai 1 dolar AS.
Lemahnya mata uang ini dipicu krisis ekonomi berkepanjangan, inflasi tinggi, kolapsnya sektor perbankan, serta instabilitas politik.
Di posisi kedua terdapat rial Iran. Mata uang ini tercatat bernilai sekitar US$ 0,000024 per rial, atau lebih dari 42.000 rial untuk 1 dolar AS.
Namun, data terbaru per Selasa 13 Januari 2026, satu rial Iran kini mencapai US$ 00,0. Berdasarkan data terbaru, maka rial Iran menjadi mata uang terlemah di dunia setelah nilai semakin turun.
Tekanan terhadap rial dipengaruhi sanksi ekonomi internasional, inflasi tinggi, serta keterbatasan akses terhadap devisa meski Iran merupakan eksportir minyak dan gas utama.
Urutan berikutnya ditempati dong Vietnam, kip Laos, dan rupiah Indonesia. Rupiah berada di peringkat kelima dengan nilai sekitar US$ 0,000059. Artinya butuh Rp16.785 untuk mencapai 1 dolar AS.
Forbes mencatat pelemahan rupiah dipengaruhi tekanan inflasi global serta kekhawatiran perlambatan ekonomi, meski Indonesia tetap menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara.
Selain itu, daftar tersebut juga mencakup som Uzbekistan, franc Guinea, franc Burundi, ariary Madagaskar, dan guarani Paraguay.
Mayoritas mata uang dalam daftar mengalami tekanan akibat kombinasi inflasi tinggi, pertumbuhan ekonomi yang lemah, ketergantungan ekspor komoditas, serta risiko politik dan kebijakan domestik.
Forbes menegaskan bahwa mata uang disebut lemah bukan karena tidak bernilai, melainkan karena daya belinya rendah terhadap dolar AS.
Nilai tukar mata uang sangat dipengaruhi faktor makroekonomi seperti inflasi, suku bunga, stabilitas politik, kebijakan bank sentral, dan kondisi perdagangan internasional.
Meski berada dalam daftar mata uang terlemah, Forbes mengingatkan bahwa kondisi tersebut tidak selalu mencerminkan potensi ekonomi jangka panjang suatu negara, melainkan gambaran tekanan ekonomi yang tengah berlangsung. ()
sumber: beritasatu.com